ALASAN SAYA MENULIS

Share:

Flpjatim.com,-Menulis merupakan suatu kegiatan merangkai kata-kata untuk menjadi sebuah kalimat. Dan kalimat-kalimat tersebut akan berpadu satu sama lain, sehingga memberikan sebuah makna. Menulis sebenarnya hampir sama dengan berbicara. Hanya saja, terkadang seseorang mulai bingung ketika harus menulis apa yang harus ditulisnya.



Itulah mungkin salah satu hal yang menantang saya untuk menulis. Ketika banyak orang yang berbicara, tapi diri ini lebih tertantang untuk menulis. Entah karena sudah karakter diri atau sebuah hobi. Bagi saya, menulis adalah suatu bentuk ekspresi jiwa dan  kegiatan yang mampu mengeluarkan segala isi hati, uneg-uneg, atau perasaan yang lainnya. Mungkin inilah beberapa alasan saya untuk menulis.

Pertama, hobi. Sejak kecil, saya memang suka sekali menulis, terutama menulis cerpen. Ketika masuk SMP, saya rajin sekali mengirim artikel atau cerpen ke majalah bulanan sekolah. Saat dimuat, ada sebuah perasaan bangga dan puas meski honor yang diterima tidak seberapa. Bagi saya, ketika tulisan kita dibaca oleh orang lain, maka mereka akan mendapatkan sedikit ilmu atau pencerahan dari sang penulis. Pernah sekali atau dua kali, saya juga mengirim opini atau artikel di koran dan dimuat di media tersebut.

Tak hanya itu saja, hobi menulis tersebut terbawa sampai ke SMA. Saat itu, saya mengikuti ekstra jurnalistik untuk semakin mengasah kelancaran saya dalam hal menulis. Tapi sayang, kegiatan itu tak berlangsung lama. Meski demikian, hobi saya masih tersalurkan melalui mading dan buletin sekolah. Saat masuk kuliah, hobi itu pun tak surut dan dapat berkembang. Ketika di bangku universitas, karya tulis yang dihasilkan lebih banyak bersifat ilmiah. Saya dan teman-teman seringkali mengikuti lomba karya tulis ilmiah yang diadakan di lingkup universitas atau yang lainnya.

Kedua, potensi diri. Saat memasuki dunia kerja, saya mendapatkan suatu ilmu baru. Ternyata setiap manusia yang terlahir di dunia ini mempunyai tipe kecerdasan majemuk pada dirinya. Mulai cerdas kata, cerdas angka, cerdas musik, sampai cerdas diri sekalipun, ada pada setiap diri manusia. Namun, tentu saja ada kecerdasan tertentu yang menonjol pada diri seseorang. Selama ini, banyak orang yang mengatakan bahwa saya cerdas kata.

Padahal, saya tidak merasakan hal itu pada diri saya. Tapi ternyata, cerdas kata bukan berarti harus pandai berkata-kata secara lisan. Pandai dalam menuangkan isi pikiran dalam suatu tulisan juga termasuk ke dalam cerdas kata. Sejak saat itu, saya baru memahami bahwa seseorang yang pandai bicara, belum tentu piawai dalam menulis. Tapi ada juga seseorang yang tidak banyak bicara, namun karya tulis yang dibuatnya sungguh briliant dan mempesona. Meski tak dapat dipungkiri, beberapa orang juga jago dalam hal keduanya.

Ketiga, kecenderungan belajar manusia. Tipe belajar masing-masing orang berbeda-beda, ada yang suka secara visual, ada yang audio, bahkan ada yang kinestetik. Seorang yang bertipe visual, akan lebih suka belajar dengan melihat daripada mendengar atau bergerak. Membaca adalah salah satu kegiatan belajar secara visual. Saat kita menulis, maka kita sudah menyediakan sebuah media belajar untuk orang-orang yang memang tertarik belajar melalui buku, novel, cerpen, atau tulisan yang lain.

Keempat, media dakwah. Mengulang lagi dari kutipan di atas bahwa saat kita menulis, kita menyediakan sebuah media belajar untuk orang lain. Apalagi jika tulisan yang kita hasilkan penuh pesan dan sarat dengan makna. Bukankah itu menjadi media dakwah kita? Mulai dari artikel, cerpen, novel, atau puisi sekalipun dapat kita jadikan sebagai ladang amal. Apalagi masyarakat saat ini sudah banyak yang malas ketika hanya mendengar ceramah atau siraman rohani lainnya. Mereka butuh suatu contoh aplikasi langsung di lapangan yang dapat dituangkan melalui sebuah karya tulis.

Sampai saat ini, betapa banyak anak muda yang mengagumi sosok Aisyah atau Fahri yang ada di novel Ayat-Ayat Cinta. Tak sedikit dari masyarakat juga akhirnya mengetahui bagaimana cara menikah yang syar’i menurut Islam melalui novel tersebut. Selain itu, karya tulis non fiksi pun juga tak kalah hebatnya. Beberapa karya penulis terkenal di negeri ini mampu menyedot perhatian publik dan akhirnya dapat mengubah pemikiran dan paradigma yang ada selama ini. Mungkin dapat dikatakan bahwa saat lisan manusia jarang didengar, maka tulisanlah yang berbicara. Itulah pentingnya menulis sebagai salah satu media dakwah.

Kelima, amal jariyah. Selain sebagai media dakwah, menurut saya menulis juga menjadi suatu amal jariyah. Saat kita menulis dan ternyata tulisan yang kita hasilkan itu dilakukan oleh seseorang sebagai sebuah bentuk ibadah yang sholih, maka insyaAllah kita juga akan mendapatkan pahalanya.

Terlepas dari semua itu, menurut saya menulis adalah sesuatu hal yang menyenangkan. Kita bebas menuangkan isi hati kita dengan gaya bahasa kita sendiri. Bagi saya, menulis adalah seni. Seorang cerpenis atau novelis bebas menentukan tokoh dan karakternya masing-masing. Mereka bebas membuat cerita yang lucu, sedih, atau menegangkan. Seorang penulis puisi bebas menuangkan kata-katanya yang puitis di dalam bait-bait puisinya. Seorang penulis dapat membawa hati dan pikiran pembaca larut dalam apa yang ditulisnya.

Yang jelas, menulis berarti dapat mencerahkan orang lain. Apapun yang ditulis, selama masih dapat memberikan manfaat bagi yang membacanya, mampu memberikan ilmu dan wawasan, maka itulah kontribusi yang dapat kita berikan untuk umat.

Tidak ada komentar