5 Cara Mengatasi Depresi

Share:
Flpjatim.com,- Depresi sebagai sebuah gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus tertekan atau kehilangan minat dalam beraktivitas, menyebabkan penurunan yang signifikan dalam kualitas hidup sehari-hari. 

Kemungkinan penyebabnya termasuk ketegangan yang bersumber dari kombinasi kondisi biologis, psikologis, dan sosial. Semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa faktor ini dapat menyebabkan perubahan dalam fungsi otak, termasuk aktivitas abnormal dari sirkuit saraf tertentu dalam otak. 
Cara-Mengatasi-Depresi

Apalagi di era disrupsi seperti saat ini, beban pekerjaan, masalah hidup, ditambah maraknya fenomena quarter life crisis bisa menimpa siapa saja terutama kaum muda. Lalu bagaimana Islam menyikapinya? 

Cara Mengatasi Depresi dari sudut Islam

Dalam Islam diajarkan bagaimana mengatasi depresi untuk ummatnya. Berikut 5 Cara Mengatasi Depresi dari sudut Islam. 

1. Membaca Alquran beserta maknanya 

Alquran sebagai wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terdapat selain sebagai sumber hukum Islam juga mengandung syifa’ (obat) dari segala macam penyakit termasuk depresi ini. Dengan membiasakan membaca Alquran setelah selesai sholat dengan rutin ditambah dengan mentadabburi maknanya in sya Allah akan membuat hati dan jiwa penderita depresi akan jauh lebih tenang. 

2. Mendirikan sholat malam 

Selain melaksanakan sholat wajib, sholat malam adalah cara efektif untuk mengatasi depresi. Sholat malam yang dikerjakan di sepertiga malam ini merupakan waktu efektif bagi penderita depresi untuk berkontemplasi dan berkhalwat (berdua-duan) dengan RabbNya. Muhasabah atas segala persoalan hidup akan mendapatkan solusi dari Allah. 

3. Berkumpul dengan orang-orang sholih 

Ibarat seorang penjual minyak wangi kita akan tepercik aroma wanginya, pun jika diibaratakan seorang pandai besi kita akan terpercik bara apinya. Demikianlah barangkali analogi untuk teman-teman kita yang sholih akan membawa pengaruh baik terhadap diri kita. 

Akan tetapi jika teman-teman kita buruk akan membawa dampak buruk juga terhadap kehidupan kita. Karena itu, memilih teman dan berkumpul dengan orang-orang yang sholih akan memberikan energi positif sehingga akan mempercepat proses penyembuhan depresi. 

4. Membiasakan untuk berpuasa 

Berpuasa selain menahan diri dari lapar dan dahaga tersimpan hikmah yang luar biasa yang salah satunya adalah menjadi lebih bersabar dan bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita. Kepekaan orang yang terbiasa berpuasa diyakini meningkat dibandingkan orang yang jarang atau bahkan tidak pernah berpuasa. 

Karena itu, dengan membiasakan diri berpuasa akan membuat penderita depresi lebih keep touch in your heart sehingga akan menjadikan mereka bangkit dari keterpurukan bahwa hidup mereka jauh lebih baik dibanding saudara-saudara sesama muslim di belahan bumi yang lain yang harus terpaksa berpuasa karena tak ada sedikitpun makanan untuk dikonsumsi. 

5. Senantiasa berdzikir 

Dzikrullah atau mengingat Allah di setiap waktu dan setiap saat juga akan membawa dampak yang luar biasa bagi penderita depresi ini. Dzikir yang berasal dari hati akan memberikan efek kepasrahan total atas segala takdir kehidupan yang terjadi pada diri mereka. 

Dengan berdzikir penderita depresi diharapkan akan memiliki kesadaran untuk senantiasa mengambalikan bahwa setiap peristiwa entah itu ujian atau musibah semua tak lepas dari grand design-nya Allah SWT. yang sudah ditakar sedemikian rupa dan tak akan melampaui batas kemampuan kita sebagai manusia. Maka, berdzikirlah karena dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. 

Wallahu a’lam bishowab

Kontributor: Bunda Novi

1 komentar:

  1. Konsultasi ke psikolog, psikoterapis, dan kalau perlu ke psikiater juga. Selain tinjauan spiritual dan agama, tinjuan keilmuan pun perlu dipakai untuk mengatasi fenomena depresi. Karena orang kalau sudah jatuh ke jurang depresi, gak bakalan bisa disuruh apalagi dipaksa rajin ibadah agar sembuh dkk. Apalagi kalau distigma dengan kurang iman dkk. Gak ngaruh semua kalimat motivasi. Ayat-ayat juga gak bakalan ngaruh kalau dipaksakan masuk ke dirinya dengan sangat tidak empatik dan menyalahkan. Perlu metode khusus tersendiri untuk menyelamatkan jiwa orang depresi.

    Btw kapan FLP beneran mau concern dengan isu mental health awareness? Pernah kepikiran buat bikin tes untuk para member-nya (terutama member atau pengurus yang mendadak ngilang karena masalah pribadi) untuk deteksi kesejahteraan mental mereka?

    Saya pernah coba bawa isu ini ke MUNAS FLP IV di Bandung. Hasilnya? Mengecewakan. Mungkin sayanya juga yang sudah kehabisan tenaga sepanjang "bertarung" dengan berbagai konflik diri maupun organisasi dan komunitas di tahun 2017, sehingga tidak bisa mengomunikasikan isu yang saya bawa di forum dengan powerful.

    Yang jelas saya kecewa dengan tanggapan orang-orang di forum (terutama moderatornya) yang menganggap isu yang saya bawa itu hanya berkaitan dengan isu cabang secara lokal saja.

    Saya pikir ini aneh. Penulis kok enggak empati dengan masalah mental health issue? Padahal, yang banyak mengalami depresi itu juga dari kalangan penulis dan seniman. Haruki Murakami saja menulis di What I Talk When I Talk About Running bahwa menulis itu bisa jadi pekerjaan yang beracun, kok (kalau pelakunya enggak memiliki life-style yang sehat).


    Usul saja. Kalau tertarik, mungkin penulis atau member situs web ini bisa coba telusuri sejarah pengobatan kesehatan mental dalam dunia sains Islam. Dulu waktu kecil saya pernah nonton di channel Metro TV bahwa yang mempelopori perlakuan yang lebih beradab bagi para pasien kesehatan mental justru rumah sakit-rumah sakit di negara-negara Islam!

    BalasHapus