Puisi Pertama dan Kata-Kata

Share:
Flpjatim.com,- Selamanya aku akan selalu mengingat bagaimana pertama kali aku membuat puisi. Satu peristiwa yang bagiku sangat bersejarah dan begitu monumental menurutku. Betapa puisi pertamaku saat itu mampu membuat seorang teman perempuan di kelasku menangis tersedu dan meninggalkan kelas begitu saja. Betapa puisi pertamaku itu tercipta di tengah pengakuanku yang membenci puisi pada guru Bahasa Indonesia.

Seolah guruku tertantang dengan pengakuan itu hingga lantas dipaksalah kami sekelas untuk membuat puisi. Atas bimbingan beliau, jadilah puisi yang tanpa memikirkan apapun itu. Guruku saat itu hanya menekankan berulang kali untuk menuliskan apa saja yang dirasakan tanpa memikirkannya. Meski demikian, beliau tetap mengarahkan kami untuk menggunakan beberapa kata yang umumnya digunakan dalam puisi. Aku pun mengalir saja mengikuti semua perintah dari guru sepenuh perasaan. 
Puisi Pertama dan Kata-Kata

Setelah puisi jadi, penderitaanku tak usai sampai situ. Aku dipaksa untuk membacakan puisi lantaran hanya dua orang saja yang mengaku membenci puisi di antara 42 siswa di kelas itu. Entah karena apa aku membenci puisi saat itu. Pokoknya aku benci. Itu saja. 

Puisi pertamaku tuntas terbaca. Belum sempat guruku berkomentar, tiba-tiba ada seorang teman perempuan berlari keluar kelas sembari menangis sesenggukan. Kami semua sempat terdiam dan hening sejenak. Hening terpecah dengan pujian dari guru atas puisiku tadi. Wajah keheranan terpampang jelas di raut muka guruku. Aku pun diam. 

Entah sudah berapa kali aku mengisahkan ini pada adik-adikku, tapi rasanya baru pertama kali ini aku menuliskan kisah puisi pertamaku. Sejak saat itulah aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang spesial dari sebuah puisi atau syair. Sejak saat itulah aku mulai ingin tahu dan ingin menyadari bahwa kata-kata memiliki satu kekuatan yang menggerakkan. Seiring berjalannya waktu dan tumbuh bersama dengan Forum Lingkar Pena, semakin kuatlah keyakinanku itu bahwa kata-kata punya kekuatan tersendiri dalam menggerakkan jiwa manusia. Begitu pun pembuktiannya banyak kudapatkan dari ragam kegiatan yang telah kulalui bersama Forum Lingkar Pena. Maafkan, aku tak ingin menunjukkan bukti-buktinya atau membagi kisahnya  lebih jauh. Aku hanya ingin membuatmu menemukannya sendiri dari setiap puisi yang kamu baca. Aku hanya ingin kamu merasakan apa yang kurasakan. Apakah bisa? Apakah mungkin? Entahlah...

Mari kita baca saja puisi satu ini. Ini bukan puisi pertamaku. Ini juga bukan puisi ciptaanku. Tapi ini puisi salah satu adik yang pernah mendengar kisah puisi pertamaku. Ini puisi salah satu adik yang tahu kisah cinta kehidupanku. Rasanya ia kini mulai memahami bagaimana caranya mengabadikan momen dalam bait-bait puisi. Berbahagialah kamu yang dicintai oleh seorang penyair, seorang penulis, karena kisah cintamu akan abadi dalam karya-karyanya. Selamat membaca!

Kelak

Setitik rasa yang muncul
Mengambil akal tiada menentu
Tak berdarah tapi sakit
Terasa sendiri padahal ramai

Yang teringat itu dulu
Saat masih ada bertemu
Tak berlangsung lama
Namun sungguh terasa bermakna

Tak terasa waktu berjalan
Sekarang ada hanyalah jarak
Yang kulakukan adalah bertahan
Dan menjaga dengan segenap daya

Dan yang kunantikan
Di saat ada kebersamaan
Dan yang selalu kudoakan
Agar kelak dipersatukan
TAMA. 25.08.2019. 21.00 WIB

Apa yang tertangkap dalam benakmu setelah membaca puisi tersebut? Aku yakin setiap kepala memiliki interpretasi yang berbeda atas kata-kata dalam bait puisi di atas. Mungkin ada pula yang serupa walau aku yakin tetap tak sama persis. Tapi di titik inilah kurasakan kekuatan dari puisi. Ada peluang interpretasi yang beragam bergantung pada suasana pembacanya, pembacaannya, dan kondisi pendukung lainnya saat membaca puisi tersebut. 

Tak heran kiranya hingga saat perang dulu para penyair dilibatkan untuk memberikan semangat pada para prajurit. Tak heran kiranya hingga para penyair diabadikan dalam kitab suci al-quran. Ada sesuatu yang berharga dan sekaligus berbahaya dari sebuah syair, sebuah puisi. Proses menyelami kedalaman puisi ini masih berlanjut hingga kini. Lalu apa yang kutulis saat ini? Entahlah... aku hanya ingin kamu ikut berpuisi dan menjadikannya sebagai alat yang menguatkan identitas diri!

Terakhir, kira-kira apa yang akan tertangkap setelah kamu tahu profil penulis puisi di atas? Penulis puisi itu seorang siswa SMA kelas X. Ia tinggal di pondok pesantren yang tidak ada akses pada media daring dan interaksi pada lawan jenis sangat dijaga sedemikian rupa. Ia tengah jatuh cinta pada temannya tapi tak leluasa untuk mengumbar keinginannya. Ia sempat bertemu satu waktu, tapi saat itu juga ia mendapatkan teguran keras dari sang guru. 
Selamat membaca! 

Penulis:
Angga Suprapto, Sekretaris FLP Jawa Timur
07.04.2020

Tidak ada komentar