[Cerpen] - Tiga Tirai

Share:
Flpjatim.com,- Dunia adalah permainan yang menipu. Begitulah yang disampaikan oleh Zat yang Menguasai Seluruh Jiwa. Bukan prediksi, namun pasti. Nihil cacat, sarat akurat. Hampir bisa dihitung jari saja mereka yang mau merenungi dengan hati. Sayangnya, kalau sudah begini siapa yang akan dituding, vertikal atau horisontal?
Sedikit yang bisa dijamah di tengah kondisi sarat cendala begini. Taruhan bukan lagi nyawa, melainkan keteguhan. Kekuatan meremas bara api. Penguasa hasil undian masal yang dipilih lima tahun sekali itu bertekuk lutut. Pun, dengan sederet kaki tangannya yang melumpuh.
‘Pria terbaik sepanjang masa’ sudah mewanti-wanti. Memperingatkan tentang ‘poros tengah’ yang akan—dan sekarang sudah—memanas. Sedikit saja yang bernyali menukar hidupnya dengan petuah itu. Sampai-sampai buaian itu berujung kosong dan mengerjapkan mata mereka. Tepat saat nubuah itu terwujud pada detik pertamanya.

Sontak, kekalutan menjejali batin. Tumbuh pesat. Menjamur seperti saat musim hujan. Namun, apalah daya? Dilema, tetap dilema. Kalau sudah begini, bisa apa?
Bukan maksud Langit menjebloskan dalam kekalutan. Kendati inilah kompetisi pencarian bakat paling masyhur. Penghuni lapisan ketujuh memburu lulusan terhebat. Mereka yang sanggup melawan rayuan dahsyat pria yang sudah muncul dari balik persembunyiannya: tiga tirai. 

Satu diantara pendamba kemerdekaan pamungkas itu adalah Luhut. Pelosok desa Sawahan jadi harapan terakhirnya bertahan. Entah untuk menunggu panggilan pulang atau justru menguatkan diri menantang. Dalam sisa waktunya, setidaknya satu hal yang menjejali kepalanya adalah keberuntungan masih memihaknya. 

Resah menggurat wajah Luhut. Dan juga turut serta meriasnya. Matanya lelah meratapi yang lalu. Meski bukan salahnya, itu membuatnya berkedip lelah. Diambilnya gelas dari seng berkarat bekas bapaknya, mencari setetes air di sana. Syukurlah setetes komiditas termahal itu masih tersisa untuk membunuh dahaganya. 

Kemarin-kemarin, penonton konser atau supoter bola kepanasan bisa seenaknya mengemis air. Sekarang, jangankan mengeluh karena selimut dunia merintih, menunggunya saja seperti sedang mendengarkan kisah dongeng.

Menariknya, kini keberadaannya mampu menghempaskan minyak bumi—yang beberapa waktu lalu jadi rebutan. Menganggurkan kertas warna-warni bernilai gambar wajah kapitan Pattimura, Tuanku Imam Bonjol, sampai Soekarno-Hatta. Membuatnya senilai lembaran fulus permainan monopoli.

Usai gersang di tenggorokannya sedikit—sekali—tuntas, linglung Luhut melangkah. Berjalan sempoyongan mendekati jendela. Oh, mungkin ini puncak kemurkaan Tuhan, katanya, menduga-duga—atau lebih pastinya menyakinkan diri.
Langit tampak mendung. Tunggu dulu, apa itu mendung? Sepertinya bukan. Tidak ada mendung seperti itu sepanjang sejarah. Kalau pun ada, mengapa begitu pekat? Padahal sepagi ini, nyanyian burung tetangga terdengar merdu. Ah, mungkin hanya gerhana. Sebentar saja kembali normal. Deru napas panjang tersembur dari kedua lubang hidung Luhut.
Tidak ada yang memuaskan Luhut ketika matanya menyapu sekitar. Satu yang dia jumpai hanyalah kemuakan. Dedaunan yang terbungkus warna hitam, tanaman depan rumahnya yang layu, dan jalanan yang banjir “salju” hitam itu mencacinya.
“Salju” membungkus sekitar?
Ya, begitulah kurang lebihnya—atau entahlah apa kata para ilmuwan.

Benda-benda mirip kristal salju itu genap seminggu membekap kota. Intensitasnya meningkat tiga jam sekali. Merobek udara. Tidak hanya itu, kendaraan tertimbun. Membunuh denyut hidup. Kemarin, Luhut mencoba ke luar rumah—hanya ke teras saja—“salju” hitam itu menenggelamkan betisnya. 

Dan sekarang? Pintu depan sudah terdesak ke dalam, tertekan dari luar.
Adu kuat mata Luhut meladeni tekanan alam terputus saat gangguan datang dari ulu hatinya. Tujuh puluh dua jam dia memblokir jemputan izrail. Bersusah payah menelan keluh. Lambungnya melilit, perih sekali. Terakhir kali usus dua belas jarinya beroperasi adalah Tujuh puluh lima jam silam. Ketika giginya melumat tempe yang separuhnya membusuk. Sisanya sudah berubah bentuk meninggalkan badannya.

Selain bau menusuk yang hadir semenjak kedatangan “salju” hitam itu, Luhut harus bertahan dari bau busuk menusuk dari dirinya sendiri. Seakan ingin menasbihkan diri sebagai orang mbambung. Terakhir kali badannya segar saat dirinya berjibaku mengerek air dari sumur kerontangnya.
Seburuknya Luhut, seharusnya dia bersyukur. Nasibnya masih lebih baik daripada para penghuni kota-kota besar yang membuas. Buta mana kawan mana lawan Asalkan lambung sesak dan padang pasir tak pindah ke leher. Pemegang tinta sejarah mungkin berhak mencatat ini sebagai genosida paling buruk dari yang terburuk.
Udara dingin iseng menyelinap. Membawa aroma menusuk hidung yang lebih buruk daripada aroma pembelot negara. Bulu roma Luhut sontak menari. Getaran mendekap tubuh berdaging tipis Luhut. Sekonyong-konyong, ingatannya terbawa pada masa-masa silam. Jauh sebelum kekalutan ini bermula.
“Aku tidak mengeri mengapa dia bisa seperti itu.” Kata Ibu pada suatu malam.
“Tidak usah dipikir.” Jawab Bapak, santai dengan rokok bergambar tempat penyimpanan garam di sela-sela jari manis dan jari tengahnya.
“Sampean lek ngomong kok ngono—kamu kalau bicara kok begitu?”
 
“Nanti aku akan ngobrol dengan Pak Ndhen. Dia kan paham masalah begini.” Asap meluncur dari bibir hitam Bapak. “Nanti juga pasti dia bisa bicara lagi, Bu.”
Tawaran Bapak tidak lantas melegakan hati Ibu. Meski Ibu bisa menerka ujung setiap pembicaraan serius mereka—bahwa janji Bapak selalu menguap begitu saja, Ibu tetap berusaha. Namun, untuk kali ini Ibu mendesak. 

Sejak berusia delapan belas bulan, puluhan kata yang seharusnya membahagiakan kedua orang tuanya tidak muncul dari bibir Luhut. Hati Ibu dibuat memamah kecewa. Hingga membuatnya sudi mengaitkannya dengan barang gaib. Sebagaimana yang juga menimpa bayi tetangga di kampung sebelah.

Entah rindu macam apa yang membuat udara dingin itu takluk. Seolah-olah Ibu benar-benar sedang memeluk Luhut, melindunginya. Di sisi lain, dalam benak Luhut, Ibu yakin bahwa ini hanya ujian dari Sang Penguasa Langit dan Bumi. Untuk menilai seberapa tangguh diri kita menghadapi situasi yang—secara pengelihatan eksternal—tidak menyenangkan ini.

Dan, Ibu melakukan itu tidak untuk menghibur diri, melainkan memang menyakini bahwa inilah jalannya. Bahwa untuk inilah Ibu dihadirkan di dunia: menemani, menjaga, melindungi Luhut. Kendati Ibu tahu bahwa Luhut hanyalah titipan. Namun, dengan diberikannya titipan itulah Ibu selalu belajar menjaga amanah.
Saat Luhut berusia delapan tahun, dia memutuskan untuk tetap melanjutkan sekolah dasarnya, menuntaskan permintaan orang tuanya. Sebagai wujud penghargaan atas keringat yang tak pernah kerontang dari pelipis Bapak. 

Meskipun peluh dan upah tak mufakat—karena Bapak hanya buruh pengumpul tebu, tekadnya memenuhi permintaan orang tuanya, kakek-nenek Luhut, membuatnya abai terhadap dirinya sendiri. Mana peduli Bapak terik matahari menggosongkan lengan, tengkuknya. Mana peduli bledek menyambar-nyambar mendesak tumbal.
Di sekolah, Luhut lebih banyak mengatupkan bibir. Mengalihkan pasokan tenaga ke kepalanya yang menampung gagasan di luar dugaan khalayak. Kendati begitu, merah selalu absen dari rapornya. Guru-guru memujanya. Menyebutnya bocah ajaib. Satu sekolah sepakat agar Luhut sanggup berbuat lebih.

Sesungguhnya, Luhut sudah menjawab tantangan itu. Dengan caranya sendiri. Menstruktur kecemasan yang menjadi labirin di kepalanya: menyiapkan diri akan kedatangan satu di antara tiga pemeran utama di babak akhir. Satu ini yang terlaknat.
Luhut membangun komunikasi dengan cara tak biasa. Memanfaatkan sepuluh jari tangannya untuk membentuk huruf. Satu jari untuk satu huruf A, dua jari untuk huruf B, dan begitu seterusnya. Mirip tebak-tebakan penjumlahan.

Saat Bapak libur dari kebun dan duduk di teras bercengkerama dengan rokok, segelas kopi hitam tanpa gula, dan desir angin pedesaan, Luhut akan menjawil paha Bapaknya. Mengisyaratkan kalimat melalui jari tangannya. 

Dengan sabar, Bapak menunggu putra semata wayangnya itu tuntas. Sebagai jawaban, Bapak mengangguk-angguk. Burung Pleci yang bernyanyi di balik sangkar atau mengusir ayam tetangga yang seenaknya memasuki pekarangan adalah selingannya. 
Luhut mendapatkan kepuasan dengan itu. Yakin Bapaknya mengerti maunya. 
Suara ketukan pintu dari luar mengamblaskan nostalgia Luhut. Secepat suara itu datang, secepat itu pula dia menelan ludah. Cemas menerkam dadanya. Apakah ini sudah saatnya? Entahlah. Jawaban itu hanya akan didapat dengan membuka pintu. 

Butuh usaha keras untuk menghimpun nyali. Bukan karena Luhut merasa kerdil memastikan jawabannya, melainkan lebih pada gugup. Bisa jadi inilah ujung dari pertemuan yang dia dambakan. Hei, bukankah sejak pertama merengek pasca berojol dari perut Ibu dia sudah memantapkan diri untuk ini?
Setelah sepuluh langkah, Luhut tiba di pintu. Dengan getaran yang menjalari tangan kanannya, dia meraih gagang pintu kayu lapuk rumahnya. Setelah meminta ampun kepada Sang Penguasa Jiwa dan memohon pertolongan, Luhut menariknya ....
Benar saja.

Pria itu, dengan segenap kedigdayaan berdiri di sisi lain pintu, tersenyum.
Saat bertukar pandangan dengannya, seketika alur pikiran Luhut menyepakati berbagai gagasan yang selama ini merampas jam tidurnya. Betul. Akurat sekali. Memang dia. Yang setelah peristiwa sarat keagungan Langit itu, dia muncul lagi. Jelas, rangkaian adegan dalam hidupnya adalah untuk menuntunnya menyongsong momen ini.
Dengan penuh kepercayaan diri, Luhut langsung menjebol dinding pembatas bibirnya. “Untuk apa aku harus memercayaimu?” 
“Kuakui kau hebat,” jawab pria itu. “30 tahun membungkam mulut, akhirnya.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan!” Luhut menguatkan suaranya.

Pria itu mendengus. “Bukan urusan mudah menemukanmu, tapi aku berhasil.”
Luhut tidak pernah mendapat kesempatan menyaingi kalimat itu karena mulutnya terkatup. Pasokan cercaan selanjutnya yang sudah dirancang kepalanya tertahan di ujung lidah. Semua itu demi mendengar si pria di hadapannya berkata, “Aku tidak hanya punya apa yang kau butuhkan,” Rambut gondrong ikal pria itu berkibar terkena angin. “tapi, juga apa yang kamu mau.”

Dari penampilannya, pria itu bukan darwis. Atau, mayat hidup haus darah yang berkeliaran demi menyumpal perut. Selain itu, tidak ada raut calon pengidap hipotermia di sana—mengingat pakaiannya sangat santai: kaus dan celana jins saja. Sakti sekali orang ini. Orang? Sepertinya itu sebutan yang salah. Tepatnya, makhluk.
“Aku tidak percaya padamu!” Lolos sudah kalimat tertahan Luhut.
Si pria mengembuskan napas. “Tidak ada pilihan yang lebih baik daripada ini.”
“Sampai mati pun aku tidak akan mau!” Sergah Luhut.

“Tidak ada lagi yang bisa menolongmu.”
Luhut bersiap membanting pintu ketika pria itu kemudian berkata lagi, “Percakapan ini ternyata membosankan. Ingat, aku punya sesuatu yang selama ini kau inginkan. Bahkan, lebih dari itu. Yang kau butuhkan juga ada.”
Ludah menggelinding di balik leher Luhut.
Ketika pria itu menelengkan kepala, Luhut mendadak terseret, menimbang-nimbang. Gawat! Runtuh sudah garis batasnya. Pendiriannya kukuhya tumbang. Entah jenis kaki tangan penguasa imitasi apa yang sukses menikung hati Luhut. Membuat bibirnya bergetar, matanya nanar, lidahnya kelu—untuk menuruti keteguhannya sendiri, dan membelokkannya menjadi, “Eh … aku … aku ingin ….”
Kalimat itu tidak pernah tuntas karena pria di hadapannya itu terlebih dahulu mengangguk dan menimpali, “Masih banyak tempat lain yang perlu kukunjungi. Kita bisa membicarakannya selama perjalanan. Setidaknya, untuk mengusir kebosanan.”

*

Malang, Desember 2019

Profil Penulis:
Gunung Mahendra, mantan ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Malang, guru bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Alumnus Universitas Negeri Malang jurusan pendidikan Bahasa Jerman. Antologi perdananya berjudul Merayu Langit (2017).

Tidak ada komentar