Andai Langit Punya Tangan

Share:
Flpjatim.com,- Sebelum benda super mungil pemohon tumbal itu datang, saban hari mereka mencekikku. Persekongkolan yang nyaris membunuhku. Bukan satu dua orang, satu bumi bersepakat melakukannya! Bayangkan betapa mencekamnya waktu yang harus kulalui. Meski begitu, aku tetap menjalankannya. Sebagai manifestasi dari titah yang Beliau berikan.

Kerap kali aku batuk-batuk usai menabun. Mereka sebabnya. Tudingan ini bukan berdasar katanya, tapi nyata. Kadang kala, aku berpikir apakah mereka tidak pernah berterima kasih? Atas apa yang sudah kuberikan, yakni menaungi mereka. Setiap hari aku menindas murad dalam diriku: keinginan untuk menggilas mereka.
Andai Langit Punya Tangan

Sejatinya, bukan aku saja yang memendam keluh. Kawan-kawanku yang menjulang dengan rambut gimbal warna hijau juga demikian. Malah nasib mereka lebih mengenaskan. Gergaji bermata runcing tega memburai perut mereka. Untuk kemudian beramai-ramai mencincangnya. Jerih aku menyaksikan itu. Andai Beliau menciptakanku bertangan, mungkin sudah kerontang kesabaranku untuk menghabisi mereka.

Yah, mungkin di sinilah letak keadilan Semesta.

Dalam sudut pandang pribadiku, aku girang menyambut kedatangan tamu baru itu. Dengar-dengar, dia itu keturunan penyakit yang juga dulu menjangkiti dunia. Sars dan Mers. Nama terakhir mirip dengan kawanku yang tinggal empat lantai di atasku.

Aku menyaksikan banyak hal terjadi sejak peradaban nol bermula. Beragam bentuk mahkluk pernah mengukir nama di bawahku. Mulai dari yang kasat mata, yang belulang di dalam tanah, sampai yang mencetuskan nenek moyang manusia adalah kera. Berbagai peristiwa juga kulalui. Mulai dari yang remeh-temeh hingga yang paling “memukau”. 

Bagaimana perasaanku mendapatinya? Tumpang tindih. Suatu waktu senang bisa menyaksikan keindahan kreasi Beliau. Di lain waktu aku getir memandangi jual beli nyawa demi harta—atau kekuasaan. Dengan wujudku yang membentang luas membungkus dunia, kejadian-kejadian berbeda di waktu yang sama itu rasanya seperti duri-duri yang menancap di kulit. Mungkin jika aku berkulit, rasanya akan jauh lebih menyakitkan. Hidup dengan segenap nyeri yang mendarah daging.

Sekali lagi, andai aku bertangan pasti aku sudah berbuat sesuatu.

Lagi pula, kelaliman tidak bisa dibiarkan, bukan? Memang. Tidak ada pemilik gelar Ph.D. yang pernah mengguruiku. Sosok guru terbaik dan terhebat sealam semesta adalah Beliau, Penciptaku. Beliau tahu apa yang terbaik untukku. Walaupun adakalanya aku menilainya sebagai sesuatu yang kurang ideal.

Selama ini, aku menahan batukku. Jika sekali saja aku meloloskannya, gempar akan membekap semua yang ada di bawahku. Oleh sebab itu, aku hanya batuk ketika akan mandi. Itu bisa membuatku lebih tenang. Selain itu, sisa bilasan air di badanku harus segera diamankan. Jika tidak, genangan besar akan menenggelamkan kehidupan di bawah sana.

Kendati tak bermata, aku tetap bisa ‘memandang’. Cara memandangku jelas berbeda dengan mereka karena Beliau memberiku yang terbaik. Dengan ini, aku bisa menikmati kedamaian yang hadir di tengah gempuran mahkluk yang mereka sebut wabah.

Lihat, tidak ada lagi yang menyayat teman menjulang berambut gimbalku. Tidak pula ada yang usil menjamah penghuni lengkungan eksotis berwarna biru di kaki gunung itu. Kawanku satu lagi—yang beredar di mana-mana, tapi wujudnya tidak kentara—juga merasakan kemerdekaan yang serupa.

Jika teman berambut gimbalku baru bisa meloloskan perih ketika tumbang, lain halnya dengan Si Pemilik Ceruk Eksotis itu. Dahulu, warna estetisnya direnggut pekat. Membuatku kehilangan cermin untuk bersolek saat menjelang pagi. Aku makin sesak karenanya. Puas berbuat, mereka minggat. Benar-benar sudah kehilangan akal sehat.

Jika Si Gimbal dan Si Eksotis masih bisa selamat, kemalangan merundung si Misterius. Oleh karena wujudnya yang gaib ia selalu terkoyak-koyak. Tanpa ampun, mereka sudi menganiaya dirinya. Hebatnya, ia tak pernah mengurung angkara. Katanya, dia baik-baik saja. Toh, suatu saat ia bisa melalang buana dengan bahagia.

Si Misterius ini adalah perisai bagiku. Sosok pertama yang memulangkan asap-asap yang akan mencabik-cabik diriku. Namun, kerap kali ia kelelahan. Terlalu banyak yang harus ia perjuangkan. Dan, sering kali diluar kemampuannya. Ia memang keras kepala.

Pernah ia mengeluhkan betapa letihnya menangkal asap dari tabung-tabung jangkung yang menancap di tanah dan hobi buang angin. Belum lagi knalpot kuda besi yang tumpah ruah menyesaki jalanan. Lengkap dengan pekikan yang berebut memecah dirinya. Ah, rasanya muak sekali dengan itu! Meski begitu, aku harus tetap memamah sabar.

Beliau pernah berkata, “Berikanlah kabar gembira bagi mereka yang bersabar.” Aku sangat berterima kasih kepada Beliau karena Beliau sungguh-sungguh membuktikan itu. Beliau tidak pernah ingkar janji. Betapa Beliau—dengan wewenang-Nya atas segala macam hal—sangat baik. Beliau berkenan menyelamatkan kami dari kejahiliyahan mereka.

Meskipun aku bungah atas hadirnya virus itu—atas kehendak Beliau, congkak rasanya jika aku tertawa dengan apa yang mereka alami. Meski berhak atas kebebasan ini, aku tidak bisa sepenuhnya menikmatinya. Di bawah, ada mereka yang berhati bersih sedang kelimpungan. Akan tetapi, aku yakin mereka memahami bahwa selalu ada kebaikan yang bersembunyi di balik ujian. Imbalan bagi yang mau bertahan.

***

Aku sangat menghargai iktikad baik dari para ilmuwan itu. Mereka, dengan keahlian yang Beliau limpahkan, mencipta virus itu agar dunia bebas polusi. Berdasarkan kabar yang beredar, salah satu pengamat lingkungan berdalih bahwa bumi sedang sekarat. Tidak ada cara ampuh mengobatinya, kecuali dengan paksa. Dan, virus itulah solusi terbaiknya.

Manusia terbaik sepanjang masa dahulu diutus untuk menyeimbangkan akal dan hati. Hal itu bukan tanpa sebab, tentunya. Karena ketika itu—aku menyaksikan sendiri—betapa kekacauan merajalela. Benar-benar salah satu era terburuk yang membuatku ingin menangis setiap kali mengingatnya. Manusia yang Beliau cintai itu berhasil menuntaskan titah Beliau dengan sangat baik. Tanpa cacat. Sangat akurat. Dan, tidak perlu didebat.

Namun sayang. Beliau tidak lagi hadir di sini. Tidak ada lagi yang mampu benar-benar menyempurnakan kedua anugerah paling mewah itu. Alhasil, muncul segolongan dari mereka yang “buta sebelah matanya.” Mereka lebih menyombongkan akal—yang memang Beliau limpahkan kelebihan—ketimbang hatinya. Dengannya mereka mendikte siapa pun yang menentang. Sama sekali tak memedulikan batas-batas yang membentang.

Setelah melalui kontemplasi, kudapatkan jawaban pasti. Selama ini yang kulihat baik—ide mereka mengolah virus itu atas nama kebaikan alam—ternyata semu. Diskusi akbar internasional di salah satu negara menjadi buktinya.

“Kita bisa gunakan virus ini untuk mengamankan dunia.” Cetus ilmuwan A di hadapan hadirin dari berbagai bidang keilmuwan. Aku mendengar kabar ini dari Si Bentala—kawanku yang menjadi pijakan manusia di mana pun mereka berada.

“Bagaimana bisa virus dibuat untuk ‘mengamankan’? Ini virus, Bung! Bukan mainan anak-anak. Di mana letak akal sehatmu?” Seloroh ilmuwan C. Mantap berselisih pendapat.

Peserta diskusi berkasak-kusuk. Menimbang risiko, merinci keuntungan.

“Coba bayangkan.” Kata ilmuwan A, melanjutkan. Kali ini lebih mencengkeram. “Jika dunia memberlakukan pembatasan sosial akibat virus ini, mengekang setiap individu di rumah, apa yang akan terjadi? Betul sekali! Keheningan meluas. Kendaraan libur membuang emisi. Pabrik diam sejenak. Tidak ada cerobong yang membahayakan lapisan ozon. Es di kutub juga akan bertahan lebih lama. Dunia pun jadi lebih jernih.”

Si Bentala sepakat. Hadirin mulai mengiyakan. Kukira, awalnya ini ide menarik.

“Saya yakin, semua hadirin ini mengetahui apa yang Terri Swearingen pernah katakana: ‘Setiap tahun manusia merilis empat puluh miliar ton karbon dioksida ke atmosfer! Seakan-akan kita punya planet lain untuk mengungsi.’ Empat puluh miliar ton karbon dioksida. Ya, Tuhan. Bisa Anda bayangkan?”

Mendengar fakta itu beberapa hadirin menggeleng-geleng, mendecak heran.

“Lantas, bagaimana negara memberlakukan pengurungan sementara itu? Negara bisa hancur! Tidak ada transaksi. Uang sebagai alat tukar penguat pendapatan negara tertahan di mesin ATM—atau dompet!” Seorang pengamat ekonomi berdiri, membantah.

Sebagai jawaban, ilmuwan A menyeringai. Seakan-akan itu lelucon.

“Sungguh. Orang ini tidak waras! Pengurungan akan membunuh ekonomi! Dasar dungu! Siapa pula yang menyematkan predikat ilmuwan kepadamu, hah?” Pengamat ekonomi itu masih sengit mencerocos. Meluapkan angkara yang berkemelut dalam dada.

Aku menunggu reaksi dari ilmuwan A. Dan, sebagian hadirin lain sepakat dengan si pengamat ekonomi. Sebagian bersiap memilih pihak. Diskusi memanas. Akan tetapi, kebodohan paling menyedihkan yang pernah kutemui muncul kemudian.

Hampir saja aku meminta kepada Beliau untuk menghempaskan diri supaya keputusan laknat itu tak pernah lahir. Namun, Beliau menolak. Sangat membekas kuat di benakku—kendati aku tidak punya tempurung kepala—ketika Ilmuwan A itu mengatakan bahwa jika pembatasan sosial itu diberlakukan akibat penyebaran virus yang tak terkendali, maka mereka bisa mengambil alih perekonomian. Memonopoli perdagangan. 

“Ketika itu terwujud, kejayaan finansial paling menggiurkan tinggal menunggu waktu. Tidak ada dalam sejarah yang mampu mengalahkan kita dalam hal ini. Cetak birunya siap diluncurkan, Tuan dan Nyonya.” Kata si Ilmuwan A menutup diskusi.

Sesuai rencana mereka, virus dikreasi. Dengan sewenang-wenang, mereka bermain menjadi Tuhan. Saat virus siap, ia dikemas dan diberaikan ke dunia. Bermula dari salah satu kota, kemudian merayap ke negara-negara lain. 

Dalam sekedip mata, selagi virus itu semakin merebak, kanal berita menjalankan tugasnya: memusatkan atensi pada kondisi ini. Selagi masyarakat dirubung cekam, para dalang menjalankan aksinya tanpa ada yang mencurigai. Mulus sekali.

Wahai Pemilik Alam Semesta, sekali lagi, izinkan aku memiliki tangan agar bisa menumpas kezaliman itu. Sungguh, tidak tahan aku merasakannya. Namun, untuk kesekian kali, dengan sangat-sangat arif, Beliau tidak membolehkan. Baiklah. Tidak mengapa. Apa pula hakku mendesak kebijksanaan Beliau atau mempertanyakan kewenangan Beliau?

Alhasil, aku hanya bisa menyaksikan. Gejalanya yang serupa flu menjadikannya samar. Mana penaykit akibat virus itu, mana yang gara-gara virus biasa jadi abu-abu. Sebagaimana penampilanku hari ini. Memburam. Aku mendendang geram. Untuk mendinginkan hati, hari ini aku akan mengguyur diri.

Memang. Di balik kemuakan akibat pandemi pengemis tumbal ini terselubung kebaikan yang teramat mahal. Kendati tetap menyebalkan. Aku tidak mempermasalahkan jika Beliau menghendaki situasi ini, sama sekali. Akan tetapi, yang membuatku ingin mengahabisi mereka adalah kelakuan mereka sendiri.

Belum genap empat bulan semenjak kelahirannya, virus itu sudah menggeramus jutaan lebih korban. Kebanyakan adalah lansia dan manusia dengan riwayat sakit menahun. Kalau sudah begini, mustahil hati mereka menang melawan akal bengis itu.

Di kala tim medis kelimpungan mengurus bejibunnya pasien, pemerintah goncang karena tuntutan kebijakan, rakyat kian merana karena keterbatasan, mereka dengan sangat dermawan merilis proyek kedua: proyek Goldhill. Seekor merpati membisikkan kabar itu kepadaku pada suatu pagi. 

“Virus itu sengaja diledakkan ke publik selain untuk uji coba, juga menutupi rencana utama mereka. Jadi, di saat semua orang sibuk mengurus diri mereka sendiri dengan ‘mencuci tangan’, mereka bergerak mengorganisir diri di baliknya.” kata merpati itu saat terbang bersama rombongannya. “Mungkin, tiga bulan lagi topik dunia akan berganti.”

Aku bertanya kepadanya, apa yang akan terjadi selanjutnya.

Merpati itu menggeleng. “Satu yang kutahu adalah sesuatu akan mencekik leher kami. Membuat kami kebas, kaku, dan dalam hitungan menit kami akan berjatuhan. Kalau kau ingin tahu mengapa bisa begitu, aku tidak lebih tahu dari yang bertanya.”

Kepergian merpati itu tanya di sepanjang tubuh biruku. Aku menyempatkan diri berterima kasih sebelum merpati itu mengepakkan sayapnya, pergi menjauh. Hingga sosoknya hanya seperti titik hitam kecil. Kuharap dia baik-baik saja.

***

Entah mengapa temanku si Misterius menyajikan hawa sedingin ini. Aku menebarkan pandangan. Tidak ada matahari di atasku. Sembunyi di mana dia? Dengan kalut, aku meneriakkan namanya. Alih-alih menjawab panggilanku dengan santun, dia justru menyalak kepadaku. Katanya, aku yang menghalangi tugasnya di pagi ini. 

Menghalangi, katanya? Tunggu dulu. Aku menyapu sekeliling. Oh, tidak. Ada apa ini? Mengapa tubuhku menggelap seperti ini? Dan, kawanan kapas mengapung di sekelilingku juga memekat. Hei! Ini pagi hari. Mengapa seperti malam hari? Rasanya seperti ada yang iseng menumpahkan tinta hitam ke sekujur tubuhku. Sial! Aku jadi buta sekarang!

Belum habis karut pada diriku, aku menangkap teriakan berbalas teriakan. Dari bawah sana. Untungnya, aku mengenali suara yang memang terbekap derita, dan mana yang sengaja dikondisikan demikian oleh Beliau. Dengan gulita yang membungkusku seperti ini aku bermunajat kepada Beliau. Sang Penguasa Langit dan Bumi.

Tidak ada jawaban langsung yang kudapat. Meski begitu, Beliau dengan senang hati menunjukkan kedigdayaan-Nya. Beliau menuntunku. Tepat di saat itu pula, aku kembali bisa memandang, pelan-pelan. Akan tetapi, bukan lagi keindahan memesona yang kudapati. 

Ini sungguh … ah, bagaimana cara mengatakannya?

Si Jago Merah melahap habis apa yang dia singgahi. Swalayan amblas digasak mayat hidup jadi-jadian. Para lelaki beringas merampas apa pun. Demi mendapat apa yang diinginkan, mereka rela saling todong senapan. Tak punya senapan, adu jotos jadi solusi. Tak pandang mana lansia, mana wanita, bahkan anak-anak, semua jadi beringas. 

Mereka yang kurang beruntung terkapar. Tak ada yang peduli. Selagi masih bernapas sikat saja yang terlihat. Asal gersang tak menancap kerongkongan. Pedih melilit menusuk-nusuk ulu hati enggan menghampiri. Pihak keamanan keteteran. Latihan tidak menyiapkan mereka untuk ini. Bergabunglah para penjaga penjara itu dengan penjarah.

Ya, Tuhan. Sekali lagi. Jika hamba-Mu ini terlalu zalim meminta, maka aku akan berhenti memohon. Namun, jika Engkau Maha Baik, izinkan aku memiliki tangan. Demi nama-Mu yang jika diperdengarkan menggoncangkan hati. Berikanlah aku tangan supaya aku bisa meraup kesedihan mereka. Menggantinya dengan keceriaan. Dan membasmi yang tak ingat besok pasti mati. Jerih sekali rasanya menyaksikan opera pelik ini.

Haruskah aku memedulikan “mereka” yang lain? Kurasa tidak. Mengapa? Karena setelah kujelajahi ini semua jelas ulah mereka. Mungkin, senjata makan tuan. Atau, lebih tepatnya karma. Hukuman atas buasnya akal yang ditinggikan daripada hati. Ah, biarlah. Itu urusan mereka. Toh, mereka yang memulai. Akhir adegan ini juga urusan mereka.

Kutemukan musabab ini adalah proyek Goldhill. Virus itu memang kejam, tapi tidak lebih kejam dibandingkan mereka—penciptanya. Dengan segenap kepongahan yang dahulu jadi perusak jiwa malaikat terbaik Beliau, mereka mencobloskan jarum suntik raksasa ke dalam perut si Bentala. Menyedot darahnya sesuka hati. “Darah bumi” itu memang amat menggiurkan.

Di kala dunia mengerang, mereka tergelak. Saat rakyatnya kelimpungan, mereka kegirangan. Bungah sekali mereka dengan tatanan baru yang segera menyingsing. Jelas Beliau tidak tinggal diam. Waktu yang Beliau titipkan kepada mereka habis. Barulah Beliau menghadirkan penawarnya: mengizinkan cendawan terakhir merekah—atau juga ledakan ribuan matahari. Sebuah halaman penutup untuk membangunkan yang salah arah.

Sembilan puluh sembilan orang dari seratus orang serempak berjumpa izrail. Roh mereka ditarik paksa olehnya ketika dunia—yang semula bersih tanpa polusi—dikepung asap tebal yang sempurna menghitamkan seluruh ragaku.

Perjalanan virus buatan itu ditutup oleh sandiwara “perebutan darah bumi.” 

Dengan perih meranggas di tubuh, aku harus bertahan. Beliau yang memintaku begitu. Dengan kusam yang merimbun, aku menatap letih ke bawah. Maafkan aku. Tidak ada yang bisa kulakukan. Seandainya aku punya tangan, maka aku akan menggendong dan membiarkan mereka yang lalim sekarat dengan otak keparatnya.

*

Malang, 14 April 2020

Profil Penulis:
Gunung Mahendra, mantan ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Malang, guru bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Alumnus Universitas Negeri Malang jurusan pendidikan Bahasa Jerman. Antologi perdananya berjudul Merayu Langit (2017).

Tidak ada komentar