Membina Diri

Oleh : Angga Suprapto
Wakil Ketua FLP Jatim

Tak pernah selintas pun terpikir bahwa diri ini ingin menjadi seorang pembina. Bahkan saat itu yang terlintas hanyalah sosok seorang pembina upacara, pembina pramuka, dan istilah pembina lainnya di tingkat sekolah. Hanya saja, semenjak aku mengenal organisasi di kampus dan mulai belajar membersamai adik-adik angkatan, maka aku pun mengetahui bahwa proses semacam ini merupakan satu kegiatan pembinaan, membina pribadi menjadi sosok yang lebih baik. Sejak saat itulah ada tekad untuk menjadi seorang pembina yang baik meski sadar bahwa ada banyak sekali dari bagian diri ini yang menuntut untuk terus diperbaiki.

Kesadaran akan pentingnya membina itu bermula dari pemahaman bahwa para pemudalah yang menjadi generasi penerus bangsa. Estafet pembangunan peradaban bangsa ada di tangan para pemuda. Oleh karenanya menjadi penting untuk memastikan para pemuda punya semangat kebaikan yang melimpah dan tentunya masa muda itu terisi dengan hal-hal positif pembangun jiwa dan cita-cita. Akhirnya, di titik inilah rasa-rasanya aku melihat dengan jelas di setiap dahi para pemuda tertulis kata “harapan”. Maka sebagaimana pun diriku di masa muda yang lalu, kutekadkan mencegah agar para pemuda tidak tergelincir pada kesalahan yang pernah kualami dan menularkan semangat kebaikan dengan cara membina.

Membina menurut kamus Bahasa Indonesia diartikan sebagai mengusahakan supaya lebih baik[1]. Merujuk pada definisi tersebut, jika berjumpa dengan orang-orang yang ingin menjadi lebih baik dari waktu ke waktunya, maka orang tersebut niscaya tengah melakukan proses perbaikan diri, proses peningkatan kapasitas diri. Berbekal semangat yang sama untuk memperbaiki diri tersebut, maka setiap kita berjumpa dan berhimpun dengan mereka niscaya semangat itu akan menular dan memengaruhi satu sama lainnya hingga membentuk semangat besar dalam proses pembinaan diri.

Begitu pun dalam proses pembinaan diri di bidang apapun. Berhimpun bersama dengan orang yang memiliki semangat yang sama, akan memberikan kekuatan tersendiri yang tentu jauh berbeda jika kita hanya seorang diri tanpa kawan. Sebagai contoh misalnya perhimpunan para calon penulis yang ada di Forum Lingkar Pena. Sudah banyak testimoni yang disampaikan bahwa dengan berhimpun dan belajar bersama tentang kepenulisan memberikan semangat tersendiri dalam proses pembelajaran di dunia tulis menulis.
Lalu, saat kita menjadi sosok orang yang membina, maka sejatinya kita tengah membina diri kita sendiri untuk senantiasa menjadi lebih baik. Jika kita masih menunggu untuk menjadi baik dan baru berkeinginan untuk membina, maka pertanyaannya adalah kapan engkau akan menjadi baik? Bukankah setiap kita punya sisi tidak baik dan hanya kita yang paling tahu betapa ketidakbaikan itu? Maka dengan jalan membinalah kita bisa menjadi lebih baik yang tak jarang proses perbaikan diri itu tiba-tiba saja muncul dari para peserta binaan kita.

Tak ada gading yang tak retak. Begitu pun manusia yang tak ada seorang pun yang luput dari kesalahan. Memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang pernah terjadi, bertaubat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan memaksa diri untuk terus membina akan menjadi satu paket perbaikan diri yang paripurna. Betapa saat kita membina, kita dituntut untuk memiliki sesuatu yang harus disampaikan yang dengannya akhirnya kita dipaksa untuk membaca dan menggali ilmu serta informasi. Betapa saat kita membina, kita dipaksa untuk menyampaikan satu nilai yang secara bersamaan ada tanggung jawab moral bagi kita untuk bisa mewujudkan nilai kebaikan itu pada diri kita. Maka dengan membinalah kita bisa menjadi lebih baik, menularkan kebaikan, dan menyampaikan pelajaran kehidupan tak berkesudahan pada semua, khususnya generasi muda penerus bangsa.




[1] Diambil dari kbbi.web.id

Komentar