Perempuan Senja



Oleh
Saif Ahmad
Divisi Jarwil FLP Jatim              
             Aku menghampiri Senja yang duduk menyendiri. Mata sayunya menatap cakrawala di ufuk barat. Aku yang duduk di sebelahnya mencoba mengurai kata-kata, namun aku urungkan. Setelah akhirnya Senja pergi dipeluk malam.    
            “Mengapa dia tidak berkirim kabar?” Katanya setengah berbisik kemudian beranjak pergi. Belum sempat aku berpatah kata, Senja sudah hilang dibalik pintu, hanya baunya wangi yang meninggalkan jejak.    
            “Hari ini aku belum berhasil, mungkin esok atau lusa. Aku akan terus mencobanya.” Tanpa tersadar kalimat itu mengalir dari mulutku. Dan membuat hidupku menjadi tidak tenang. Perasaanku berkecamuk. Lamat-lamat aku teringat pesan almarhumah Ibunya. Malam itu, seorang Ibu yang rambutnya sudah beruban datang ditemani anak sulungnya.
            “Kuharap kamu bersedia datang. Aku sudah tidak punya cara lain. Berpuluh dukun, dokter bahkan  teman dekat Senja sudah aku datangkan, tetapi sia-sia. Kini hanya kamu satu-satunya tumpuan harapanku.” Tatapnya memelas dan mengiba.
            “Aku tak berani janji Ibu, tapi aku akan berusaha.” Suaraku parau.
            Belum terwujud apa yang menjadi permintaannya dan belum  genap seratus hari lepas pertemuan itu, Ibu yang malang itu telah menutup mata untuk selamanya. Menurut orang-orang dia meninggal karena memikirkan anaknya yang tidak sembuh-sembuh. Sanak kerabat bilang bahwa Senja sakit jiwa.
Hari berikutnya, kulihat Senja keluar dari kamarnya tanpa sepatah kata. Diiringi cahaya senja, dia memulai ritualnya. Duduk di bawah pohon Enau sambil menatap jalan setapak, perkebunan cengkeh, kemudian bola matanya beralih pada senja di ufuk barat. Cakrawala emas menyapu langit-langit.
            “Sungguh pemandangan yang luar biasa. Aku sering merindukan untuk dapat tinggal di sebuah pegunungan. Terasa dekat dengan alam,” aku mencoba membuka percakapan.
            Kulirik Senja yang diam terpekur. Bahkan ia tak menoleh sedikitpun. Mulutnya tertutup rapat. Tatapannya kosong, namun menyimpan pengharapan. Aku menggigit bibir dan meremas tanganku.
             “Senja, tataplah mataku! Tidakkah kamu ingat sedikitpun? Aku adalah Faris teman kecilmu. Hal apakah yang membuatmu terkungkung seperti ini? Tidakkah kamu bisa bercerita untuk melepas beban dipundakmu? Aku menjadi tak sabar dan berisik disampingnya.
            Senja tetap diam. Mulutnya masih tertutup rapat. Rambutnya yang panjang dan kumal melambai diayunkan angin senja. Cahaya senja berhasil menyepuh bola matanya menjadi lebih cekung dan tirus. Wajahnya benar-benar sayu. Namun, kecantikan alami dalam dirinya tak terhapus sedikitpun. Meskipun hatinya dalam lara, pilu dan sedih tak kunjung diakhirinya.
            “Senja, dengarkah dirimu? Lihatlah senja di ufuk barat tetap setia menemanimu tanpa lelah. Dia terus menjalankan tugasnya tanpa mengeluh sedikitpun. Kita bisa belajar dari senja.” Aku mulai bosan berceloteh.
Jika ada sesuatu kelam yang meyelimuti jiwamu, tidakkah kamu ingin menghapusnya. Kamu punya masa depan. Kamu punya prestasi. Ibumu pasti tersenyum disana, jika kamu mau terbuka dan melupakan kejadian yang menjadikanmu seperti ini.” Ada sedikit sesal, mengapa keluar kata-kata itu dari mulutku? Kukira ini terlalu pedas dan dini.
Lihatlah! Senja tetap tak memberi reaksi. Tatapannya bertambah sayu. Sayu sekali. Ia masih sama, menatap cakrawala senja setelah akhirnya tenggelam dipeluk pekat malam. Matanya yang sayu membentuk danau kecil yang siap muntah.
            “Astaga Senja,” aku berdiri terpaku menyaksikan senja menangis untuk kali pertamanya sejak tiga tahun penantiannya di Kastil Bukit Senja. Menantikan seseorang yang tak perlu dinanti. Sepertinya dia tak akan datang. Lelaki itu telah mengingkari ikrar sucinya.
Lihatlah! Tangisnya yang sudah kering sejak tiga tahun itu, kini kembali hadir membasahi korneanya yang cokelat kebiru-biruan. Dan entah sampai kapan?
            Senja buru-buru beranjak menuju kastil mungilnya, sebelum aku sempat berpatah kata dengannya. Hanya derit pintu yang menemaninya masuk ke dalam singgasananya yang tak siapapun diijinkan masuk. Termasuk desau angin sekalipun.
            Senja memiliki rumah kecil khusus yang didesain seperti kastil kuno zaman Belanda. Dikanan kirinya terdapat taman, pepohonan dan kolam. Sehingga  bangunan itu bak istana mungil putri raja. Kastil itu dibangun khusus oleh ayahnya sesuai dengan permintaanya. Ayahnya adalah seorang pengusaha yang sukses.
Aku masih duduk mematung disebelah tempat duduk senja. Sendiri berteman sepi. Lamat-lamat aku teringat masa-masa saat kami masih duduk dibangku sekolah. Betapa Senja adalah murid berbakat. Dia berhasil menjuarai lomba pidato tingkat nasional. Kecerdasan dan kepiawaiannya berbahasa begitu memikat. Berbagai kejuaraan dimenangkannya. Ayahnya sangat bangga dan selalu menuruti permintaanya. Termasuk Kastil yang ditinggalinya sekarang.
            Kini sungguh miris, ia tak seperti dulu. Semangatnya telah ia sandarkan pada sebuah ikrar.  Seseorang yang sangat dicintainya. Seseorang yang membuatnya bertahan menunggu hingga lima tahun. Seseorang yang berhasil menumbangkan prestasi, bahkan masa depannya yang gemilang menjadi pupus. Dan apakah ini termasuk takdir?
            Sore itu aku kembali menunggunya di taman. Sebelumnya aku sempat berjalan-jalan dengan ayah Senja. Kami membicarakan kemajuan Perkebunan dan yang pasti tidak ketinggalan adalah membicarakan perkembangan Senja, termasuk peristiwa langka kemarin. Tangis Senja, setelah tiga tahun korneanya tak basah.
            Sore itu Senja berjalan memakai kemeja setelan putih. Kepalanya bertudung selembar kerudung putih yang disematkan sekenanya di kepala. Semua serba putih. Aku sedikit heran.
            Kami berdiam mematung. Tak bersuara beberapa menit lamanya. Aku mencoba meliriknya, seperti hari-hari sebelumnya. Ia tetaplah sama.
            Sebulan sudah aku menemaninya. Duduk berdiam diri tanpa melakukan apapun kecuali melihat tangisnya beberapa hari yang lalu. Menunggu sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu. Menemani Senja menatap cakrawala senja yang cahayanya menyepuh perkebunan cengkeh menjadi pepohonan berdaun emas. Diam-diam aku memuji selera Senja. Ternyata ada rasa tenang dan nyaman duduk di bawah pohon Enau berjemur diri dibawah senja sore hari. Ditemani desau angin dan wewangian bunga.
            “Aku bukanlah siapa-siapa tanpa senja yang menjadi penyemangat hidup. Mungkin aku sudah mati jika senja itu tidak hadir barang sedetikpun.” Bibirnya yang kering kembali mengatup setelah keluar kata-kata yang sulit kumengerti setelah tiga tahun tak berpatah.
Aku tergagap tak yakin. Aku segera menyambar beberapa kata. Dengan hati-hati aku mencoba berargumentasi. Aku tak mau berkata dengan angin seperti hari-hari sebelumnya.
            “Ya, mungkin kami semua salah selama ini, senja memang indah dan sayang untuk dilupakan. Senja bisa saja menjadi harapan, bukan sebuah perpisahan seperti dongeng-dongeng dan cerita-cerita sad ending yang menceritakan tentang sepasang kekasih yang berpisah disaksikan senja sore hari.
            “Tapi itu benar adanya.”
            Oh, berarti tafsirku salah.” Aku menyesal dengan kata-kataku. Seandainya bisa kutarik, ingin rasanya aku tarik kembali agar aku tak terus malu di hadapan Senja.
            “Lalu mengapa sepasang kekasih itu berpisah saat senja?” Aku bertanya hati-hati dan tidak ingin salah untuk banyak kalinya.
            “Sepasang kekasih itu tidak berpisah di kala senja, namun sepasang kekasih itu merajut harapan tepat di kala senja. Meraka ingin mengubah takdir. Mereka ingin mengubah apa yang menjadi kepercayaan orang-orang, bahwa mentari adalah pertemuan dan harapan sedangkan senja adalah perpisahan dan kesedihan. Sepasang kekasih itu telah bertekad untuk mengubahnya, bahwa senja adalah pertemuan agung yang akan mematahkan cerita-cerita dan dongeng-dongeng itu.”
            “Lalu?” kataku singkat. Aku tak berani berkata banyak. Aku tak ingin kembali berwajah merah didepan orang brilliant ini. Meskipun dia sedang dirundung duka, namun tak berarti mengurangi kecerdasannya sedikitpun.
            “Aku akan menunggunya.”
            Diam sesaat. Heran. Keyakinan cintanya begitu kuat. Aku bergidik. Angin senja mulai menusuk pori-pori kulitku. Aku sedikit menyesal karena tak menyiapkan jaket saat pergi. Udara pegunungan memang sangat dingin, apalagi malam hari.
“Dan kami akan membuktikan kepada orang-orang bahwa senja adalah pertemuan, bukan perpisahan. Kami akan bertemu, meskipun usiaku senja nanti.
            Kami terdiam kembali. Aku belum menemukan kata yang tepat untuk memberikan tanggapan. Hingga akhirnya, Senja beranjak masuk ke kastilnya, ditemani desau angin yang memaksa ikut mengantarnya, pun senja malam yang hilang dibalik pekat malam tahun keempat, dia menungu seseorang yang entah kapan akan menepati janjinya.
(Ngawi, 26 Desember 2017)


Komentar