Untuk Pengibar Panji-Panji Dakwah Literasi

Oleh : Rafif Amir Ahnaf, Ketua FLP Jawa Timur


Saya memikirkan bagaimana organisasi ini akan menjadi besar. FLP benar-benar dikenal, tidak hanya di negeri ini, tapi oleh dunia. FLP menjadi rujukan bagi semua pegiat literasi, bagi semua sastrawan. Karya yang dihasilkan oleh teman-teman FLP adalah karya-karya berkualitas, yang menginspirasi, yang menggerakkan. FLP menjadi ujung tombak peradaban dalam ranah budaya dan kesusastraan.

Tapi mewujudkan itu semua, tentu tidaklah mudah. Harus ada kerja keras. Saya mengatakan kepada teman-teman, kita tidak sedang main-main. Ini jihad kita insya Allah. Kita semua sedang berburu surga. Maka semangat yang harus kita gelorakan harus sama seperti ketika berada di medan perang. Kenyataannya, kita sedang bertarung melawan mereka yang menjadikan literasi sebagai alat untuk menghancurkan peradaban, menjadi alat ideologi liberal, sekuler, dan komunis.

Karena itu, kepada semua pemegang panji-panji FLP saya berpesan: kibarkan dakwah literasi ini ke setiap sudut negeri. Hadirkan FLP di dalam hati. Alokasikan waktu tiap hari untuk memikirkan FLP. Luangkan 15-30 menit saja khusus FLP. Dalam waktu yang singkat itu, abaikan yang lain, fokus pada apa yang bisa dilakukan untuk FLP. Jika menjadi pengurus ranting, cabang, atau wilayah, kerjakan apa yang sudah menjadi tanggungjawab dan diamanahkan kepada kita. Selesaikan. Jika hanya menjadi anggota biasa, bagikan informasi-informasi tentang agenda FLP, karya-karya anggota FLP, dan segala hal yang positif tentang FLP.

Jauhi sifat kontraproduktif. Jika memang ada masalah, selesaikan dengan cara yang baik. Jangan diumbar keluar. Tidak ada masalah yang tidak ada penyelesaiannya. Renungkan baik-baik kenapa kita ada di FLP, untuk apa kita berlelah-lelah di FLP. Dahulukan berprasangka baik kepada siapapun, lebih-lebih kepada orang yang militansi dan totalitasnya dalam ber-FLP tak patut diragukan.

Setiap hari kita dipenuhi dengan aktivitas masing-masing. Kita semua sibuk. Tetapi jangan lantas itu kita jadikan alasan untuk tidak memikirkan FLP. Apalagi, melalaikan amanah-amanah kita di FLP. Kalau kita masih sempat menghirup kopi, menonton televisi, berchat ria, duduk melamun memikirkan jodoh yang tak kunjung datang, seharusnya ada waktu pula untuk sejenak memikirkan FLP.

Ada sebagian teman kita yang bahkan FLP hadir dalam mimpinya. Itu tanda bahwa ia memikirkan FLP. Ada yang sampai larut malam memikirkan program-programa ranting, cabang, atau wilayah. Ada yang airmatanya menitik medoakan saudara-saudaranya di FLP. Ada yang tak bisa tidur memikirkan amanah kepanitiaan yang belum selesai. Kita berkorban waktu, energi, bahkan materi. Benar. Tapi seperti kata Sujiwo Tejo, kita belum sampai pada hakikat cinta ketika kita masih merasa berkorban. Sebab terkadang karena merasa berkorban, lantas kita merasa bahwa harus ada timbal balik yang diberikan FLP pada kita. Tugas kita memberi, mencintai. Dicintai itu hanyalah akibat sebab kita mencintai. Jika kita tak mendapatnya, tak lantas mengurangi semangat kita untuk memberi.

Sebab itu. Berbuat yang terbaik untuk FLP. Bukan agar kita menjadi besar, tetapi agar FLP besar. Kalau pun nanti kita besar, syukurilah. Itu adalah bonus dari Allah. Bukankah kita sudah mendapatkan banyak hal dari FLP? Ilmu, pertemanan, sahabat, bahkan tempat curhat? Hehe. Maka marilah, sekali lagi, kita luangkan waktu kita untuk sejenak memikirkan FLP yang kita cintai.

Dengan itu insya Allah, waktu-waktu kita menjadi produktif. Hidup kita akan berkah; rezeki lancar, semua urusan dimudahkan, keluarga pun menjadi keluarga yang berkah. Bagi yang jodoh belum datang, bisa jadi jodoh itu datang melalui FLP. Tapi bukan itu tujuan kita, itu adalah buah dari perjuangan kita bersama dakwah. Ridha Allah yang kita harapkan. Berharap rahmat-Nya, agar kelak keberadaan kita di FLP menjadi pemberat timbangan, untuk kemudian Allah berkenan memasukkan kita ke dalam surgaNya. Surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Aamiin.

Komentar