Menjadi Orang Tua, Butuh Belajar Juga



Oleh : Rifka Fatmawati
Kaderisasi FLP Jawa Timur
               
Setelah akhirnya bisa menjawab pertanyaan “Kapan nikah? Mana calonnya?” Dunia tak serta merta terbebas dari ke-kepo-an orang. Masih ada pertanyaan basa-basi yang bikin ngilu hati. “Sudah isi belom?” padahal menikah sebulan juga belum. Inginnya menjawab, “Udah dong, isi anaconda semenit  lagi lahiran biar situ nggak penasaran” tapi sadar itu nggak sopan.

Jadi mari tutup telinga dari pertanyaan-pertanyaan ala paparazzi. Anggap aja kita ini selebriti, yang hidupnya selalu menarik untuk diikuti. Tapi masih nyesek gimana dong? Mungkin baju situ kekecilan, coba deh cek sho*** kali ada gamis murah yang memikat hati #eh.

Nyesek sehari, dua hari sampai sebulan itu nggak masalah. Asal jangan keterusan, karena kita hidup bukan untuk menjawab pertanyaan orang. Yuk bangkit, mari singsingkan lengan memantaskan diri sebagai ikhtiar untuk mendapatkan buah hati. Emang jomblo aja yang harus memantaskan diri? Yee… mau jadi orang tua juga harus belajar kali.  Nggak asal ngebrojolin anak satu dua lusin tapi minim pengetahuan ini anak kudu diapain eheehe.

Jadi orang tua emang nggak gampang. Harus banyak belajar biar bisa mendidik generasi masa depan yang nggak sekedar hobi sosmed-an. Nah, semua pembelajaran itu bisa dimulai dari masa-masa penantian kekasih halal kok nggak harus nunggu disahin pak penghulu dulu (duh sabar ya, Mblo). Caranya? Bisa ikutan seminar parenting, belajar sama ahlinya sambil bawa catatan. Syukur-syukur lagi hujan biar sekalian doa semoga pulang-pulang dilamar (piisss Mblo)

Menurut Irwan Renaldi, salah seorang pakar parenting, sebagai orang tua itu harus paham pola pengasuhan. Pola ini dibagi menjadi beberapa usia anak.
                
1. usia 0-7 tahun
Ketika anak usia 0-7 tahun, nggak cuma anak yang butuh perhatian, yang nggak kalah pentingnya adalah kondisi ibunya. Ini tugas ayah untuk selalu membuat istri aman dan nyaman. Tujuannya apa? biar istri bisa bahagia dan tenang dalam mendidik anak. Jadi nih ayah dan calon ayah yang budiman, pada masa-masa ini nggak usah gengsi bantuin istri melakukan pekerjaan rumah. Istri mah nggak butuh kembang setaman, suami bantuin nyuci piring, ngepel, nyuci baju, nyetrika disaat istri lagi nyusuin bayi....duh itu udah jauh lebih romantis dari Dilan.

 2. 7-15 tahun
Mari ibu-ibu kita selonjorkan kaki hehehe karena di usia ini anak butuh lebih dekat dengan ayahnya. Anak akan melihat se-super hero apakah Ayahnya pada usia ini. Nggak harus pinjem bajunya Supermen atau Batman sih Yah, hanya saja di usia ini aura Ayah sebagai seorang pemimpin harus terlihat maksimal.

Terlebih ketika anak kita laki-laki. Dia akan mencontoh minimal empat atau lima perilaku ayah. Di usia ini nih, Ayah perlu mengajarkan bagaimana anak untuk menjadi laki-laki sebenarnya, seorang pemimpin yang bertanggungjawab dan sholih tentunya.

Kalau anak kita perempuan bukan berarti Ayah bisa lepas tangan, justru tugasnya nggak kalah hebat. Ayah dan Ibu wajib mengajarkan empat keterampilan bagaimana menjadi seorang wanita. Empat keterampilan itu adalah :
a. Keterampilan Fatimah, yang mengajarkan bagaimana seorang anak perempuan akan menghebatkan orang tuanya. Seperti Fatimah putri Rasulullah

b. Keterampilan Khadijah, yang mengajarkan bagaimana seorang anak perempuan kelak akan menghebatkan suaminya. Seperti Khadijah istri Rasulullah

c. Keterampilan Maryam, yang mengajarkan bagaimana seorang perempuan kelak akan menghebatkan anaknya. Seperti Maryam ibu nabi Isa

d. Keterampilan Asiyah, yang mengajarkan bagaimana seorang perempuan kelak juga akan menghebatkan anak-anak orang lain. Seperti Asiyah istri Firaun yang mengasuh nabi  Musa

3. Usia 15 tahun ke atas
Nah di usia ini anak butuh orang lain juga untuk membimbingnya. Butuh mentor, butuh ustad/ustadzah.

Gimana? Susah? Mari kita tarik nafas dan elap keringat sejenak. Dari semua penjelasan di atas tentu nggak mudah terlebih kalau gagal menciptakan kedekatan dengan buah hati kita. Duh gimana mau deket sama buah hati kalau jodoh aja belum mendekat hingga kini. Eh...maafkan emak-emak yang hobi bikin baper para jomblo ini hehe. makanya yuk disimak aja dulu, diinget-inget agar kelak bisa diaplikasikan setelah menjadi orang tua nanti.

Pernah lihat anak kecil yang nggak ada petir nggak ada puting beliung tiba-tiba ngomel, marah-marah, gangguin orang tuanya? Itu sebenernya dia lagi ngode. Kita sebagai orang tua harus peka, ya mungkin mesti kebanyakan cowok nggak peka ya, tapi beneran deh plis pekalah wahai para Ayah untuk yang satu ini. Ini isyarat dari anak bahwa tangki jiwanya lagi kosong.

Masih menurut Irwan Renaldi, ketika anak memberikan isyarat tersebut orang tua perlu mengisi tangki jiwanya dengan mengucapkan kata-kata yang mendukung anak. Jangan ragu untuk sesering mungkin mengungkapkan perasaan sayang. Anak juga butuh diberikan sentuhan kasih sayang, dengan memberikan empat dekapan perhari dan atau lima kecupan perhari. Dengarkan dengan seksama cerita atau curhatan anak. Memuji atau mengagumi kualitas intrinsik anak juga perlu dilakukan. Dan yang nggak kalah pentingnya adalah menyediakan waktu yang berkualitas dengan anak.

Intinya sih, sama seperti jodoh. Ingin dapet jodoh yang bener, ya kitanya juga harus bener dulu. Seperti halnya pengen punya anak yang sholih, ya orang tuanya juga harus berusaha untuk bisa sholih juga kan. Karena anak mencontoh perilaku orang tuanya.

Gimana, Mblo makin baper dan pengen cepet punya anak?

Udah sana nikah, mumpung buku nikah belum langka.

Komentar