Keseruan Munas IV FLP di Bandung Bagian-1



Pagi ini Bandung 220C, mungkin bagi saudara yang tinggal di Surabaya suhu 220sangatlah dingin. Namun bagi saudara yang tinggal di daerah pegunungan tentu hal ini adalah biasa. Dan hal ini telah mendaulat Bandung sebagai kota dingin nan sejuk yang sering dikunjungi.
Satu hari sebelum tiba di Bandung, saya tidak terlalu diribetkan dengan penataan barang-barang atau peralatan yang harus dibawa munas IV FLP. Yang terpenting bagi saya laki-laki, tiket perjalanan sudah ada ditangan, hal ini berhasil mengurangi kepanikan saya sebelum berangkat. Tiba di Stasiun Blitar pukul 12.05, segera saya mengambil posisi duduk sesuai dengan nomer tiket saya, karena pukul 12.10 KA Kahuripan tujuan Kiara Condong Bandung berangkat. Di tengah perjalanan hal serupa tentu pernah saudara alami, bau keringat penumpang, suara barang-barang beradu, suara tangisan anak kecil dan suara dengkuran penumpang, peluit kondektur lelah mewarnai perjalanan saya.
Tiba di stasiun Kiara Condong pukul 02.42 dini hari. Saya bertemu dengan delegasi dari Bengkulu Mas Suhendra yang sedang menempuh kuliah di UGM. Lalu kami berangkat bersama menuju ke lokasi Munas yaitu Wisma Diklat Bina Marga (Wisma Pekerjaan Umum/PU) Jl. RE Martadinata No. 119 Bandung. Pukul empat pagi kami tiba di Wisma, dengan disambut wajah lelah panitia yang menunggui peserta. Setelah diantar ke kamar, kami berkenalan sambil rebahan sebentar lalu sholat shubuh.
Pagi itu pembukaan Munas IV FLP dilaksanakan di Balai Kota Bandung. Munas kali ini dihadiri oleh kurang lebih 300 peserta Se-Indonesia dan wakil luar Indonesia seperti Yaman, Mesir, Arab Saudi dan Hongkong. Wilayah Jawa Timur membawa peserta terbanyak yakni 42 orang yang tergabung dalam delegasi dan nondelegasi.
Munas dibuka pukul sembilan pagi, yang seyogyanya dibuka oleh wakil wali Kota Bandung Oded M. Danial, namun pagi itu beliau diwakili oleh Ibu Asisten Pemerintahan tiga yaitu Ibu Komariyah. Beliau menyampaikan banyak hal terkait literasi diantaranya Bandung merupakan kota yang multikultural dengan khasanah budaya yang harus dilestarikan salah satunya adalah melalui bidang literasi. Dengan harapan FLP bisa menjadi gerakan pemuda dalam menjaga literasi bangsa.
Acara pagi itu juga diwarnai oleh penampilan tari topeng oleh pelajar dari Cirebon dan musikalisasi puisi oleh M. Irfan Hidayatullah, dosen Universitas Padjajaran dan juga mantan Ketua umum FLP periode 2005-2009. Selain itu teaterikal sejarah FLP berhasil memukau hadirin yang ditunjukkan dengan riuhnya tepuk tangan peserta munas. Sambutan wakil walikota, ketua panitia dan ketua umum FLP menambah khidmat dan semaraknya acara pembukaan pagi itu. Kemudian acara dilanjutkan dengan studium general dengan tema “Menjaga Identitas Bangsa di Era Digital” oleh Masdhar Zaenal, Nenden Aisyah dan Helvy Tiana Rosa dengan moderator Gegge Mappanggewa.
Masdhar mencoba membawa hadirin dengan mengenang lagu kasidah era 2000-an, lagu tahun 2000 yang dibawakannya telah berhasil membuat hadirin merenung bahwa lagu itu telah membuktikan bahwa saat ini era digital telah menggeser banyak hal mulai tenaga manusia beralih ke mesin, komunikasi dengan internet, sawah ladang menyempit, hutan ditebangi untuk pemukiman dan lain-lain. Kemudian Masdhar mengaitkannya dengan cara kita untuk mengikuti perubahan zaman tanpa meninggalkan identitas bangsa. Studium general dilanjutkan oleh Ibu Nenden Aisyah yang lebih berbicara tentang perkembangan literasi di Bandung. Sedangkan Bunda Helvy Tiana Rosa membahas tentang bagaimana menjawab tantangan di era digital. Dikarenakan waktu yang sangat mepet dengan waktu sholat jum’at, akhirnya pada pukul 11.30 peserta laki-laki disilakan untuk sholat jum’at di Masjid Al-Ukhuwah yang bersebelahan dengan Balai Kota Bandung. Siang itu acara selesai dengan penutup dan dilanjutkan dengan foto bersama.
Pukul 12.30 peserta kembali ke wisma untuk mengikuti pemaparan dari sponsor. Setelah pemaparan tersebut, acara dilanjutkan dengan pembagian peserta ke dalam dua kelompok, delegasi dan non-delegasi. Peserta  non delegasi mengikuti workshop yang telah disiapkan oleh panitia, sedangkan peserta delegasi masuk dalam acara pembahasan dan pengesahan tata tertib sidang. Pada sesi Pembahasan dan Pengesahan Tata Tertib Sidang sempat terjadi pemilihan ketua sidang yang kemudian terpilih Alimin dari NTB sebagai ketua sidang dengan anggota Umi Kulsum dari Jawa Timur dan Fahrudin Ahmad dari Makassar.
Pukul 19.55 acara dilanjutkan dengan sidang pleno I: Sidang dipimpin oleh Alimin dari NTB, sedangkan Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pertimbangan BPP FLP Pusat, oleh M. Irfan Hidayatullah dan Maimon Herawati. Laporan pertanggungjawaban Dewan pertimbangan selesai pukul sembilan setelah berjalan alot dan akhirnya diterima oleh peserta sidang. Acara kemudian dilanjutkan dengan Sidnag Pleno II yang dipimpin oleh Fahrudin Ahmad dari Makassar sedangkan Laporan Pertanggungjawaban Ketua Umum FLP Periode 2013-2017  dipaparkan oleh Ibu Sinta Yudisia, dilanjutkan laporan dari bendahara, sekretaris dan masing-masing delegasi. Laporan pertanggungjawaban sempat berjalan alot akhirnya diterima oleh peserta pukul 23.30. Disaat agenda non-delegasi sudah selesai malam itu, Agenda delegasi masih harus berlanjut dengan masuk ke komisi masing-masing. Komisi A membahas tentang AD ART FLP, Komisi B membahas tentang Kaderisasi FLP dan komisi C membahas Bisnis dan Advokasi. Malam itu sempat diwarnai adu pendapat dimana peserta meminta agar acara di skores dan dilanjut esok pagi, namun pada akhirnya disepakati agar acara dilanjut. Malam itu Komisi B dan C selesai pukul 03.30 dinihari. Sedangkan Komisi A berjalan hingga shubuh, lalu berak sholat shubuh kemudian dilanjut hingga pukul 06.30. Dengan wajah kusam pada pagi hari ini acara masih terus berlanjut hingga penutupan Munas besok, Ahad 05 November 2017.

Semangat kawan-kawan.
Selamat buat panitia munas 4 flp, kalian FLP Jabar, hebat!!!
Salam Literasi.
#munas4flp

(Bandung, 04 November 2017)
Oleh: Saif Ahmad

Komentar