SEBONGKAH CINTA DI SEPENGGAL PERJALANAN (Part 3)

Mbak Zie dan Surabaya

Malam itu aku jadi menginap di Hotel Mbak Zie di daerah Ketintang Perum. Dosen Unesa. Aku kegirangan ketika mendapat izin menginap dari Mbak Zie. Aku akhirnya menginap di Surabaya.

Kami diantar gojek yg lagi-lagi dipanggil oleh Om Muhsin melalui aplikasi gojek di hapenya karena hape kami berdua sudah tewas dengan mengenaskan. Kami diantar melintasi jalanan Surabaya malam yg hangat dan membawa suasana romantis. Romantis bukan karena banyak orang pacaran melainkan banyak lampu-lampu jalan yg menerangi lalu-lintas.

Kami sampai di kos sekitar pukul 10. Aku langsubg mandi kemudian tidur. Biasanya, aku perlu waktu dua jam untuk bisa tidur setelah supper. Namun, air yg segar telah memapah kantukku ke dalam mimpi. Aku tidur dengan nyamuk-nyamuk kecil yg menggigiti kakiku. Tapi aku tak bergeming karena kantuk telah mendekapku begitu dalam.

Paginya, aku meriang. Aku tidak bisa tidur nyenyak karena hawa Surabaya yg cukup panas. Suara Mbak Zie yg menawariku apel pun tak kuhiraukan. Setelah mandi dan sarapan, aku bergrgas pulang. Aku tidak ingin merepotkan Mbak Zie terlalu lama dengan merawatku yg sedang meriang. Aku sudah terbiasa dengan sakit yg melemahkan. Jadi, meriang bukanlah masalah besar dalam perjalanan.

Jam masih menunjukkan pukul 6.50. Mbak Zie dan aku menunggu gojek yg mengantarku ke terminal. Aku menatap wajah pagi Surabaya yg cerah dan penuh semangat itu sekali lagi. Aku merasakan wajah itu tengah menyambut kedatanganku, bukan mengantar kepergianku. Aku menyesal karena sudah tidak tahan dengan panasnya Surabaya yg menurutku diracik dengan pas oleh Tuhan. Pas karena ketika angin berhembus, segarnya masih bisa terasa. Ketika mentari terik pun, tidak membuat orang langsung mengeluarkan keringat dengan panas yg menyengat. Panas Surabaya itu hangat. Tidak boleh ada seorang pun yg meralatnya.

Motor yg dikendarai oleh seorang bapak dengan wajah khas Surabaya itu datang. Ia menyodoriku sekotak masker dan memintaku untuk memakainya. Suaranya ramah. Khas suara orang Surabaya. Tentu dengan senyuman ramah yg menyurabaya. Alah. Tak bisa kudeskripsikan.

Aku melambaikan selamat tinggal pada Mbak Zie. Aku diantar bapak berkumis itu melalui gang demi gang untuk menghindari macet di jalan. Cara bapak itu mengendarai motor begitu bersahaja. Bapak itu seolah tahu aku membenci guncangan yg berlebihan ketika melalui polisi tidur. Bapak itu tidak ngebut, tidak juga pelan, melainkan pas. Aku begitu menikmatinya hingga jika aku mengantuk, aku pasti sudah tertidur di pundaknya. Ah, Surabaya memang kucintai karena dia begitu pas di hati.

Sesampainya di terminal, aku mengucapkan terima kasihku dengan sederhana. Walaupun sebenarnya aku ingin mengatakan, "terima kasih, Bapak karena sudah mengendarai motor dengan begitu bersahaja sehingga saya sampai di terminal dengan selamat dan bahagia." Walapun aku mengucapkannya dengan sederhana, Bapak itu menjawabnya dengan tidak sederhana. Bapak itu menjawab dengan nada yg begitu halus dengan senyumannya yg ramah. Khas keramahan orang Surabaya. Bapak itu pun mengingatkanku untuk berhati-hati. Sebagai catatan, wajah Bapak itu hampir mirip dengan wajah Bapakku. Begitu pula dengan caranya mengendarai motor.

Aku pun naik bus jurusan Surabaya-Malang. Tak lama, bus itu melaju dan menyeret mataku yg sedang memeluk Surabaya. Harusnya aku menginap dari pagi hingga pagi lagi agar memoriku pada Surabaya terpenuhi. Andai hatiku adalah tali, maka panjang cintaku pada Surabaya adalah sejauh tugu pahlawan hingga tugu Malang. Sayangnya bukan.

Di perjalanan pulang, pandanganku masih erat menggenggam tangan Surabaya. Cinta tidak hanya membutakan, menulikan, dan mematikan rasa, tapi ia juga membuntukan penciuman. Hampir semua yg kurindukan dari Surabaya sudah kudapatkan semalam. Namun, apa kau tahu hal yg belum kudapatkan itu? Bau peceren Surabaya yg menghitam.

Komentar